Creasi adalah situs cari kerja kreatif di Indonesia yang membantu semua Creative Talent (pekerja kreatif) melamar kerja dengan cepat dan mudah. Hanya dengan satu isian singkat dan upload CV + Portfolio dalam satu file, lamaran kerja akan terkirim. Para Talent Seeker (perusahaan maupun individu) dapat memasang info lowongan kerja kreatif dan melakukan proses rekrutmen dengan cepat dan mudah. Beberapa kategori lowongan kerja yang populer adalah: graphic design, illustrator, web design, copywriter, content writer, photographer, packaging design, fashion design, motion graphic dan digital imaging. Dengan info lowongan kerja terbaru di Creasi, mencari lowongan kerja dan melamar kerja di bidang kreatif menjadi semakin gampang.

Apa yang Tidak Diajarkan di Bangku Sekolah: Menjadi Kreatif


Apa yang Tidak Diajarkan di Bangku Sekolah: Menjadi Kreatif

 

Industri kreatif yang sedang bangkit saat ini memberikan napas baru bagi kehidupan ekonomi kreatif. Mulai dari sempat diberntuknya kementerian yang membawahi ekonomi kreatif sampai sekarang dibentuknya badan khusus untuk menangani ekonomi kreatif bernama Bekraf.

Sudah beberapa tahun terkahir kalangan akademis pun berduyun-duyun mendirikan program studi, jurusan, bahkan sekolah dan universitas dalam bidang kreatif.  Jargon serta slogan yang diusung pun menarik masyarakat sehingga orang tua dan para calon siswa dengan penuh optimis mendaftar di sekolah/universitas tersebut dengan harapan ketika anak mereka lulus, maka otomatis mereka akan menjadi insan kreatif.

Pertanyaannya adalah: Is that so? 

Benarkah untuk memasuki industri kreatif, kita harus kuliah (lagi) di universitas dengan jurusan “berbau” industri kreatif? Jika benar begitu, maka saya rasa dunia industri kreatif kita tidak akan kekurangan tenaga kerja. Jika benar begitu, maka forum, grup atau portal seperti creasi.co.id ini tidak perlu mengiklankan lowongan pekerjaan.

Cukup dengan mengontak universitas tersebut dan mengontrak lulusan mereka.

Theoritically that’s the most effortless recipe to acquire your desired creative talent. In fact, how many of you who have spent million of hours designing in front of computers, editing the images and videos, or even just sitting in the middle of the crowd doing the photoshoots; are people who have never tasted the priviledge of “creative schools”?

Berapa banyak di antara kita, para pekerja industri kreatif yang bertitel Sarjana Seni (S.Sn)? Bachelor of Art? Art Diploma? Dan serentetan titel yang menggambarkan kompetensi kreatifitas mumpuni yang dibutuhkan oleh industri kreatif. Tapi itu semua tidak menjamin kita akan menjadi kreatif lho.

Masih ingat dengan ilustrasi kepintaran binatang? Alkisah ada binatang monyet, gajah, ikan, pinguin dan burung yang diberi ujian yang sama persis – yaitu ujian memanjat pohon.

Ilustrasi tersebut menggambarkan dengan sangat jelas, bahwa setiap siswa di sekolah dinilai berdasarkan “standar kompetensi yang seragam”. Padahal, tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama. Seperti ikan yang hanya bisa berenang, tidak akan mungkin mencapai standar kompetensi monyet yang jago memanjat pohon. Jika diuji berdasarkan standar kompetensi monyet, maka habislah si ikan. 

Sementara di dalam industri kreatif, keseragaman membunuh kreatifitas. Apa jadinya jika semua merk air mineral menggunakan kemasan dengan desain yang sama? Semua website online shop menggunakan desain template web yang sama? Betapa menjemukannya industri kreatif “seragam” ini. 

Industri kreatif telah mengendus hal ini dan membuat terobosan dalam proses perekrutan, juga budaya bekerja. Lowongan pekerjaan yang terkesan absurd, cenderung nyeleneh telah membuktikan bahwa yang diperlukan dalam industri kreatif adalah stok kreatifitas yang tak ada habisnya, tanpa selalu mewajibkan ijazah, transkrip nilai maupun segala formalitas kantoran “normal”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kreatif/kre·a·tif/ /kréatif/  adalah: 1 memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; 2 bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yang -- menghendaki kecerdasan dan imajinasi;

Yang dibutuhkan oleh industri kreatif adalah orisinalitas, bukan formalitas. Ini adalah peluang bagi para lulusan sekolah non seni. Coba anda tengok ke kubikel sebelah kanan atau kiri (kalau punya kubikel), tanya rekan kerja anda, apa latar belakang pendidikannya? Nyambung atau tidak dengan pekerjaannya saat ini? Lalu bagaimana mereka bisa duduk di kursi mereka saat ini, menjadi pekerja industri kreatif?

Because they earn their ability to be creative by heart. They chase it even until the deepest ant’s nest. They spent more hours to explore and living their passions. Although maybe it costs them to be casted away from home, from their parents’ will and hopes.

Ketika seseorang belajar secara otodidak, melenceng jauh atau dekat dengan bidang keilmuan yang telah mereka kecap sebelumnya, sesungguhnya sedang mempertaruhkan hidupnya. Namun, segala sesuatu yang diusahakan atas keinginan sendiri secara sadar akan memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan keterpaksaan.

Lulusan sekolah kreatif pun bukannya tidak berkontribusi dalam membangun industri kreatif saat ini. Namun, mungkin belum bisa memenuhi kuota kebutuhan industri kreatif, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Sejatinya, kreatifitas lahir dari dalam diri pribadi. Ketika seseorang diberikan kesempatan dan sarana untuk mendaya cipta, dinilai secara objektif berdasarkan karya, bukan keseragaman, maka itulah kreatifitas.

Tidaklah penting bagaimana kreatifitas itu bisa bercokol di kepala insan industri kreatif, baik melalui bangku kuliah maupun hasil “mencuri ilmu” di lapangan dengan cara berjibaku dengan pitching, deadline dan permintaan revisi klien yang seakan tak ada habisnya.

Kuliah atau tidak kuliah, setiap kita adalah mahasiswa di dalam universitas kehidupan. Dengan atau tanpa gelar, kreatifitas adalah fitrah, yang tidak tercetak dalam lembaran ijazah. Buktinya ketika kita akan bekerja di industri kreatif, kreativitas kita dibuktikan dengan karya alias portfolio.

 

Sumber gambar:www.freepik.com

 

 

 

Posted on January 12, 2016 | by: Inne Ria Abidin | Comment: 0

Share with

Mail

TOP

thanks for www.uiuxfirst.com